Mata gue kembali memperhatikan sekeliling, jalur ini sama persis dengan jalur yang tadi kita lewatin, begitu-begitu saja dan berulang-ulang. Gue Erik dan Sambas masih terus berjalan hingga akhirnya Sambas memutuskan kita bertiga untuk break disebuah tikungan menanjak.
"Break.." ujar sambas
"Lo kenapa sih ndil?"
"Mbas ini jalur udah kita lewatin, mbas" Gue ngomong terbata, setengah takut
"Bercanda aje lo, tersesat-tersesat" Sambas malah ketawa.
"........"
"Mbas firasat gue buruk. mending kita tunggu yang lain"
"Lo ngomong apaan sih! ngedrop lu yak?"
"Gue serius woy"
"Udah-udah gausah debat, Yaudah kita tunggu aja yang lain disini" kata Erik.
Sambas berteriak ke arah atas, memanggil Ambon namun tak ada jawaban, sepertinya rombongan cewek-cewek sudah sampai di pos 3. Akhirnya Sambas memanggil ke arah bawah, untungnya terdengar suara sautan dari bang Durek. Gue duduk sejenak, sambil berusaha membuang pikiran-pikiran negatif di otak gue. Malam hari di tengah hutan, dingin, suara-suara aneh, ini benar-benar hal yang sama sekali belum pernah gue rasakan.